SELAMAT DATANG DAN TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG ...BLOG INI HANYA INGIN BERBAGI ILMU DAN INFORMASI BERSAMA..LETS FOLLOW EACH OTHER
Tampilkan postingan dengan label WISATA BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juni 2012

KEKAYAAN ALAM LAUT PAMEUNGPEUK GARUT YANG TERLUPAKAN

Disini saya akan memperkenalkan salah satu tempat wisata di Garut yang rata-rata orang tidak tahu yaitu laut Pameungpeuk Garut. Orang kadang tidak menyangka bahwa di Garut ada wisata pantai yang tidak kalah menarik dengan wisata pantai-pantai yang sudah terkenal.
Bila anda jalan-jalan menelusuri daerah Garut cobalah anda datang ke pesisir selatan disana terdapat beberapa pemandangan pantai yang masih alami dan menakjubkan dengan pantai pasir putih dan ombak laut selatan yang cukup besar.

Diperjalanan, anda tidak akan merasa lelah karena sepanjang jalan dimanjakan dengan pemandangan yang indah mulai dari lereng pegunungan dengan hutan lebat dan alami, bukit dan perkebunan seperti karet, teh, kakao dll.
Pemandangan air terjun Neglasai akan anda jumpai keindahannya pada saat anda istirahat di perjalanan. Letaknya diatas gunung dan kita dapat menikmatinya di area kebun teh yang menghampar luas di kawasan Neglasari sungguh pemandangan yang menakjubkan.
Sesampainya disana terdapat beberapa pantai yang dapat anda kunjungi satu persatu diantaranya pantai Santolo, sayang heulang, Pantai Cijeruk Indah, Rancabuaya dll.
Hanya yang paling banyak dikunjungi wisatawan yaitu Pantai Santolo, pantai ini adalah merupakan tempat berkumpulnya nelayan tradisional yang bermata pencaharian sebaga pencari ikan di Samudra Hindia.
Anda dapat juga menyewa perahu untuk sekedar menelusuri lautan sekitarnya sehingga anda dapat menikmati panorama pantai yang indah dari tengah lautan.
Lingkungan laut Pameungpeuk Garut rata-rata masih alami kendati begitu kita enggak perlu khawatir dengan fasilitas yang anda perlukan karena disana kita dapat menemukan beraneka ragam makanan, cendramata dari mulai asesoris sampai pakaian pantai, juga tersedia penginapan jika kita ingin bermalam disana.

Yang tak kalah pentingnya kita dapat menemukan dimana lokasi satelit LAPAN  diluncurkan, karena didekat pantai tersebut merupakan pusat peluncuran satelit penelitian LAPAN.
Masih banyak lagi yang lain yang perlu diketahui tentang kekayaan alam Pameungpeuk Garut yang belum terjamah oleh wisatawan asing maupun lokal.




Rabu, 23 Mei 2012

MELEPAS KEJENUHAN DI BOROBUDUR

Tidak ada salahnya mengambil cuti liburan saat pekerjaan kantor mulai terasa membosankan. Melakukan aktivitas berlibur tidak hanya menyenangkan, tapi juga bermanfaat membantu mempertahankan kesejahteraan dan kesehatan emosional. Istirahat, relaksasi, dan pengurangan stres sangat penting untuk kesejahteraan dan kesehatan. Hal ini dapat dicapai melalui kegiatan sehari-hari, seperti olahraga dan meditasi, tetapi liburan merupakan bagian penting yang perlu dilakukan.
Dr Natasha Withers dari One Medical Group di New York menyatakan bahwa aktivitas berlibur selain bisa mengusir stres juga mampu menurunkan risiko penyakit jantung. Kita juga tahu bahwa pikiran yang sehat membantu proses penyembuhan, sehingga beristirahat. Membuat pikiran rileks dapat membantu tubuh menyembuhkan penyakit lebih baik,” kata Withers seperti dikutip ABC News.
Kebanyakan orang memiliki perspektif hidup yang lebih baik dan termotivasi untuk mencapai tujuan mereka setelah liburan, bahkan jika itu hanya dilakukan selama 24-jam. Orang yang tidak mengambil cukup waktu untuk bersantai, mungkin merasa sulit untuk bersantai di masa depan. Tanpa waktu dan kesempatan untuk melakukan hal ini, koneksi saraf yang menghasilkan perasaan tenang dan damai menjadi lemah, sehingga lebih sulit untuk beralih mengurangi stres.

Untuk alasan itulah saya dengan tiga teman sekantor memutuskan untuk melepaskan kejenuhan dari pekerjaan, berangkat ke Magelang untuk menikmati keindahan Candi Borobudur. Walaupun terik panas menyengat kulit, itu tidak menghalangi kami untuk berputar mengamati setiap sudut candi. Disana pihak pengelola memberikan sehelai kain batik untuk dilingkarkan dipinggang dan digunakan saat berkunjung di area candi Hal ini bertujuan untuk meperkenalkan dan mengingatkan kita bahwa batik merupakan salah satu warisan budaya bangsa kita. Bagi yang takut panas tidak perlu khawatir,  disini juga tersedia jasa penyewaan payung yang bisa dipakai saat berada di area candi.

Bangunan Candi Borobudur  sungguh luar biasa, dan sukar masuk akal jika dipikirkan bagaimana orang-orang dulu membangunnya, hanya allah lah yang tahu sebenar benarnya kejadian..Bangunan ini hanyalah batuan yang dipahat dan kemudian disusun menjadi 10 tingkat. Stupa yang berjejer di sekelilingnnya menambah cantiknnya candi. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik terhadap rasa penasaran kami yang ingin secara langsung melihat karya menakjubkan manusia jaman dulu. Dan akhirnnya terobati juga rasa penasaran kami ini.
Borobudur, candi budha yang terletak di Magelang ini adalah salah satu bangunan megah dunia. Dulu popularitasnya termasuk dalam 7 keajaiban dunia, namun seiring waktu popularitasnya menurun. Meski begitu Borobudur tetap saja bangunan yang megah yang layak untuk dikunjungi. Candi yang dibangun penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra ini terletak 40 km utara Yogyakarta. Bila anda ingin berkunjung kesana dan tidak memiliki kendaraan sendiri tidak terlalu sulit . Anda hanya perlu menuju terminal Jombor bila anda sedang berada di Jogyakarta.

Tiket untuk masuk sendiri cukup mahal 17.500 untuk orang dewasa dan 15.000 untuk anak-anak. Sejumlah aturan serta pengawasaan sebelum masuk bisa dibilang cukup ketat, seperti tidak boleh membawa air melebihi (sejumlah liter, tujuanya tentu agar mau membeli minuman para penjual) jadi bawalah air seckupnya dan harus siap-siap dari rumah karena bila sudah ada dilokasi ini harganya bisa 2x lipat.
Selanjutnya silahkan menilmati kemgahan candi ini. Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka.

Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar. Sungguh menakjubkan, Kebanggaan  kian bertambah seraya menyentuh dan memperhatikan secara detail pahatan batu-batu ini. Sehingga saya berfikir, memang bukan hal yang baru lagi bila banyak orang bermimpi dan manjadikan Borobudur sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi.
Kesempatan untuk mengabadikan moment ini pun tidak terlewatkan. Banyak diantara wisatawan yang membawa kamera untuk  foto-foto berlatarkan kemegahan candi. Bagi yang tidak membawa kamera tidak perlu takut melewati kesempatan mengabadikan moment ini, pasalnnya di sekitar candi juga terdapat orang-orang yang bekerja sebagai fotografer yang selalu siap memenuhi permintaan pengunjung.
Tips terkakhir saat ingin keluar dari dari komplek Candi dan kaki sudah luar biasa capek, saat akan memasuki pintu keluar kita akan disuruh melewati pasar dan pasar dibuat berputar-putar sehingga jarak menjadi sangat panjang. Bila tidak berminat untuk memasuki pasar kita  bisa menerbos jalan dengan cara lurus, tapi kita harus beralasan pada petugas ingin ke toilet yang memang didekat situ ada toilet dan tinggal lurus menuju pintu keluar tanpa harus memutari pasar.
Tidak hanya menyimpan pesonannya, lingkungan candi Borobudur juga memiliki masyarakat yang sangat kreatif. Wisatawan yang ingin membawa cendera mata atau oleh-oleh dapat membelinya kepada penjual yang ada di sekitar jalan keluar candi Borobudur. Cendera mata yang dijual diantarannya : miniatur candi, tas, gantungan kunci, gelang, sendal serta pakaian yang bertuliskan dan menggambarkan candi Borobudur serta berbagai kerajinan tangan lainnya yang menggoda mata dan kantong untuk memilikinnya. Tentunnya dengan harga yang terjangkau. Apalagi kalau pintar menawar, bisa dapatkan lebih banyak kenang-kenangan dengan biaya yang sedikit.

Selain wisata candi hal lain yang ada disana adalah museum record Indonesia, Manohara Center, serta museum Borobudur(free). Pemandangan dari atas candi cukup indah dengan gunung-gunung yang mengelilinginya, jadi tidak ada salahnya untuk jalan-jalan kesana.
SELAMAT JALAN-JALAN....





Selasa, 01 Mei 2012

RARAKITAN DI SITU CANGKUANG MENDAYUNG SEJARAHCANDI CANGKUANG GARUT




Danau kecil atau biasa disebut dengan Situ membentang dengan bunga teratai dan eceng gondok diatasnya. Situ Cangkuang, biasanya penduduk setempat menyebut nama tersebut dan termasuk salah satu Situ yang sangat bersejarah, karena ditengahnya terdapat sebuah bangunan candi. Candi Cangkuang adalah satu-satunya candi yang dapat dipugar di daerah Jawa Barat. Nama Candi Cangkuang disesuaikan dengan nama desa dimana candi itu ditemukan. Desa Cangkuang berasal dari nama pohon yang banyak terdapat
disekitar makam Embah Dalem Arif Muhammad, namanya pohon Cangkuang, pohon ini sejenis pohon pandan dalam bahasa latinnya ( Pandanus Furcatus ), tempo dulu daunnya dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus gula aren. Embah Dalem Arif Muhammad dan kawan-kawan beserta masyarakat setempatlah yang membendung daerah ini, sehingga terjadi sebuah danau dengan nama "Situ Cangkuang" kurang lebih abad XVII.  Embah Dalem Arif Muhammad dan kawan-kawan berasal dari kerajaan Mataram di Jawa Timur. Mereka datang untuk menyerang tentara VOC di Batavia sambil menyebarkan Agama Islam di Desa Cangkuang Kabupaten Garut. Waktu itu di Kampung Pulo salah satu bagian wilayah dari desa Cangkuang sudah dihuni oleh penduduk yang beragama Hindu. Namun secara perlahan namun pasti, Embah Dalem Arif Muhammad mengajak masyarakat setempat untuk memeluk Agama Islam.
 Desa Cangkuang terletak disebelah utara kabupaten Garut masuk Kecamatan Leles, tepatnya berjarak  17 km dari Garut atau 46 km dari Bandung. Untuk menuju situs Cangkuang dari arah Bandung, bisa menggunakan mobil pribadi atau umum. Dari arah Bandung menuju Garut kita akan ketemu dengan kecamatan Leles, ketika sampai di Leles ada sebuah papan petunjuk yang sangat jelas yang menunjukkan posisi Candi Cangkuang. Masuk ke dalam sejauh kurang lebih 3 km, dengan jalan beraspal dapat dilalui oleh kendaraan baik roda dua maupun empat, bahkan masih dipertahankan angkutan tradisional delman ( andong ). Apabila ditempuh dengan jalan kaki memerlukan waktu kurang lebih 30 menit. Udara didaerah ini tergolong sejuk, karena terletak di ketinggian 700 m diatas permukaan air laut. Disepanjang perjalanan dari Leles ke desa Cangkuang kita akan menyaksikan indahnya sawah yang hijau, disebelah utara kita akan melihat Gunung Haruman, dan disebelah barat akan nampak Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur yang menjulang tinggi.
Gerbang yang tidak terlalu besar akan menyambut kehadiran para pengunjung, bahkan lokasi parkir bagi para pengunjung hanya muat untuk 3 mobil ukuran kecil sejenis sedan dan minibus. Untuk bus besar bisa diparkir ditepi jalan desa. Sejenak kita bisa beristirahat ditepi situ, sambil menikmati makanan kecil yang sudah kita bawa. Teduh rasanya memandangi air situ yang bening kehijauan dan udara yang sejuk. Untuk mencapai Candi Cangkuang kita harus menyeberangi situ, kurang lebih berjarak 500 meter dari tempat gerbang masuk. Rakit dari bambu siap mengantarkan kita dengan ongkos 50,000 per rakit, dimana satu rakit kapasitas maksimalnya 25 orang. Kurang lebih setelah 10 menit berada diatas rakit, sampailah kita dilokasi Candi Cangkuang. Memasuki areal candi setiap orang dikenakan biaya restribusi sebesar Rp 1000,- yang digunakan untuk pemeliharaan candi tersebut. Pagi hari rasanya lebih indah ketika kita mengunjungi candi tersebut, karena selain candi tersebut terletak ditanah yang paling tinggi diantara bangunan-bangunan lain ditempat itu, kabut pagi yang menyembul diantara pohon-pohon besar di sekitar candi menambah kesan angker candi, namun hal itu justru menambah pesona tersendiri dari Candi Cangkuang.
Candi Cangkuang ditemukan kembali oleh Team Sejarah Leles dan sekitarnya pada tanggal 9 Desember 1966. Team ini disponsori oleh Bapak Idji Hatadji ( Direktur CV. Haruman ). Team Sejarah Leles diketuai oleh Prof. Harsoyo, serta sebagai ketua penelitian sejarah dan kepurbakalaan adalah drs. Uka Tjandrasasmita, seorang ahli purbakala Islam pada lembaga purbakala. Drs. Uka Tjandrasasmita mula-mula melihat adanya batu yang merupakan fragmen dari sebuah bangunan candi dan disamping itu terdapat pula makam kuno berikutsebuah arca ( patung ) Siwa yang sudah rusak, tempat penemuan ini adalah merupakan sebuah bukit di Kampung Pulo Desa Cangkuang. Penelitian tersebut berdasarkan tulisan Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genootschap terbitan tahun 1893 yang menyatakan bahwa di Desa Cangkuang terdapat makam kuno ( Arif Muhammad ) dan sebuah arca yang sudah rusak. Selama penelitian selanjutnya disekitar tempat tersebut ditemukan pula peninggalan-peninggalan kehidupan pada zaman pra sejarah yaitu berupa alat-alat dari batu obsidian ( batu kendan ), pecahan-pecahan tembikar yang menunjukkan adanya kehidupan pada zaman Neolithicum dan batu-batu besar yang merupakan peninggalan dari kebudayaan Megaliticum.
Lebih unik lagi disamping Candi cangkuang terdapat sebuah pemukiman yang dinamakan dengan Kampung Pulo. Sebuah kampung kecil yang terdiri dari enam buah rumah dan kepala keluarga. Ketentuan ini harus ditepati, dan sudah merupakan ketentuan adat kalau jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam. Oleh karena itu bagi Kampung Pulo Desa Cangkuang sukar atau relatif lama untuk berkembang, baik rumahnya atau penduduknya dari keenam kepala keluarga tersebut. Sebagian besar dari penduduk Kampung Pulo tersebut bermata pencaharian petani dengan tanah sendiri, dan sebagian lagi sebagai petani penggarap tanah orang lain. Penduduk yang menempati kampung ini merupakan penduduk keturunan ke tujuh dari Eyang Dalem Arif Muhammad. Karena uniknta tempat ini, baik dari sejarah maupun lokasinya, membuat daya tarik tersendiri buat wisatawan baik domestik maupun luar negeri untuk mengunjungi tempat ini. Menurut petugas, "tiap hari selalu ada wisatawan asing yang berkunjung kesisni, belum lagi diakhir minggu biasanya banyak dikunjungi oleh anak-anak sekolah untuk memperdalam pengetahuan sejarah. Namun begitu, faktor kebersihan dan keindahan nampaknya kurang mendapat perhatian serius dari Dinas Pariwisata yang mengelola tempat ini. Selain itu fasilitas MCK juga kurang memadai, sehingga ke depan agar tempat ini tetap menarik buat para wisatawan, pihak-pihak terkait harus memperbaiki dan melengkapi fasilitas-fasilitas yang ada.
Berdasarkan sejarah, Candi Cangkuang merupakan bangunan suci berkonsep Hindu pada abad ke-7 dan 8 Masehi. Dibangun, tepat di tengah Situ Cangkuang, Garut, Jawa barat. Terdapat nilai ritual pada candi tersebut sebagai bentuk kedekatan budaya masyarakat Sunda dengan agama Hindu sejak zaman Kerajaan Taruma Negara. Hal itu terlihat dari kebiasaan perayaan hari-hari ritual setelah kematian dan penyembahan nenek moyang (Mangle, 28 Agustus 2003).
Hingga saat ini, sikap hormat pada roh nenek moyang masih dianggap menyelamatkan tradisi adat. Perpaduan antara Hinduisme dan nilai kultural yang khas dari masyarakat Sunda dikenal sebagai kepercayaan Jati Sunda atau kepercayaan sinkretis; sebuah konsep berkeyakinan yang menghubungkan arwah-leluhur, agama Hindu, dan Buddha demi menciptakan keteraturan hidup mereka.

Jati Sunda bukan sekadar pertautan kultur dan agama. Bahkan bagi masyarakat adat Kampung Pulo yang dekat dengan Candi Cangkuang, Jati Sunda merupakan oase kultural. Untuk keselamatan bersama, masyarakat adat memahami budaya dengan kekuatan magis-spritual. Bagaimana candi itu disakralkan terlihat dari konsistensi masyarakat pada norma adat.

Bagi mereka, benda budaya atau peninggalan sejarah mengandung kekuatan supranatural yang pada gilirannya menjadi pusat hidup. Atas dasar pandangan itu, bangunan Candi Cangkuang dipercaya mengandung roh leluhur. Maka menghormatinya merupakan perilaku adat paling mulia.

Pandangan demikian tidak pernah lekang oleh waktu. Bahkan telah membangun konstruksi budaya yang lahir dari pertautan roh dan tradisi. Pada dasarnya, memang sebuah magis-spritual dan terkadang cerita mitos. Tetapi terlampau kuat memengaruhi pergulatan hidup manusia. Seakan masa depan peradaban bergantung padanya.

Setelah Kampung Pulo mulai mengakrabi Islam, keyakinan Jati Sunda tetap dianggap bagian penting kesadaran adat. Penghormatan terhadap Candi Cangkuang tidak pernah tergantikan. Budaya terpelihara sebagai ruang bersama tanpa ada konflik, perbedaan maupun keresahan sosial.

Sekalipun Islam telah menjadi agama adat Kampung Pulo, kebiasaan merayakan ritual setelah kematian dan memberikan kemenyan atau bunga-bungaan untuk tujuan mendekatkan diri kepada roh leluhur masih lestari sehingga harmoni yang lahir dari keseimbangan sosial senantiasa menyifati sistem adat.

Persis di sisi selatan Candi Cangkuang, berdiri tegak nisan makan Arif Muhamad, tokoh Islam pertama Kampung Pulo. Saling bersebelahan tanpa satu pun mengalami kepunahan. Dalam suasana bersama, ada kejujuran tidak terbantahkan. Yaitu, perihal keterbukaan saat terjadi pergulatan identitas atau perbedaan.

Candi Cangkuang yang Hindu cenderung tidak mengacuhkan persoalan itu. Demikian pula nisan Arif Muhamad menerima kehinduan Candi Cangkuang sebagai kehadiran makna. Makna yang nantinya menyembulkan kebudayaan tanpa konflik, solid serta menenteramkan manusia.

Selain itu, Candi Cangkuang dan nisan makam Arif Muhamad merupakan dua sumber adat Kampung Pulo yang mahakuat. Keduanya memberikan orientasi bahwa tradisionalitas dapat mengilhami keajekan, menerima apa adanya dalam suasana penuh hormat pada sesama. Darinya, persoalan identitas tidak pernah muncul. Seperti halnya perselisihan yang tidak pernah ada.

Dalam keseharian, masyarakat adat meyakini Islam sebagai agama. Tetapi di saat bersamaan juga mengamini ritual Hindu. Perilaku macam itu mungkin merupakan pemaknaan budaya paling manusiawi. Tradisi adat dilahirkan bukan atas dasar ego manusia, melainkan melalui peleburan makna roh-leluhur, alam, dan norma manusia. Dengan begitu, mengerti budaya harus melampaui segala kepastian rencana manusia. Juga, perlu menghadirkan makna dari setiap simbol budaya, mitos dan peninggalan leluhur untuk menciptakan hidup tanpa konflik.
TEASER: Cara pandang macam itu tersirat jelas pada bangunan Candi Cangkuang. Tidak hanya menampilkan sisi eksotis laiknya bangunan candi bersejarah. Tapi diyakini mampu menyudahi perbedaan serta pertarungan identitas